Susah Senang Menuju Sindoro - SumbingMendaki gunung Sindoro - Sumbing merupakan salah satu persyaratan untuk menjadi anggota pecinta alam salah satu perguruan tinggi di Bekasi yang disebut dengan Wajib Gunung (WAGUN). Perjalanan dimulai dari kampus menuju stasiun Bekasi dengan waktu yang mepet dan berharap kereta masih mau menunggu sebentar berangkatlah kami berenam. Dan ternyata kami telat, kereta sudah berangkat. Akhirnya kami memutuskan naik kereta Tegal. Sampe di Tegal salah satu dari kami bertanya pada masinis "kereta ke Purwokerto udah berangkat belom pak?" Masinis berkata "yah,,, baru ja jalan,,,," masinis memberi usul "kereta pertamina itu juga mau ke purwokerto naek kereta pertamina ja,,,". Beruntungnya kami ada kereta Pertamina yang sedang menunggu perintah keberangkatan menuju Purwokerto. Perut terasa laper, saya dan satu orang teman pergi ke luar stasiun mencari makan sambil menunggu kereta berangkat. Bungkusa nasi goreng baru dibuka kereta udah membunyikan sirinenya tanda mau berangkat. Kami memutuskan untuk membungkus kembali nasi goreng dan segera naek kereta. Perut terasa semakin laper akhirnya kami buka bungkusan nasi goreng di atas kereta tangki. Kami makan di atas kereta yang bergoyang ria.
Setibanya di stasiun Purwokerto perjalanan selanjut cukup lancar. Pilihan pertama kami mendaki Gn. Sumbing. Pendakian dimulai pagi hari. Pada awalnya pendakian lancar terkendali sampelah kami di Pos terakhir sebelum puncak dan kami semua udah merasa cape. Tiga dari teman kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan jalur yang menanjak, saya dan dua teman saya lainnya memutuskan melanjutkan perjalanan dengan jalur landai kekanan. Dan ternyata jalur itu makin ngaco dan mengarah ke hutan edelweiss yang terbakar habis. Semakin lama dirasa jalur semakin ga jelas, dan kami bertiga memutuskan memotong jalan dengan mendaki tebingan hutan edelweiss yang habis terbakar. Tanah yang rapuh membuat batu yang kami pijak berjatuhan karena ga kuat menahan beban. Dengan seluruh badan yang hitam karena kena arang sisa kebakaran akhirnya kami hampir sampe di puncak. Tapi masih belum bertemu tiga teman kami yang terpisah. Kami bertiga berteriak sekencang-kencangnya memanggil teman kami saya sendiri teriak memanggil teman perempuan. Akhirnya terdengar suara dari mereka bertiga, kani berlari sekut tenaga untuk mencari sumber suara. Kami bertemu di puncak Sumbing saya berpelukkan dengan teman perempuan saya satu-satunya yang ikut pendakian dengan penuh haru sambil berbisik "Gw minta pembalut dong,,, gw dapet neh,,,". Air mata menetes sambil tertawa lepas. Kami pun berkumpul kembali dan berfoto untuk dokumentasi perjalanan sebagai laporan pada senior.